Dunia Pararel - Michio Kaku [#116]
Bagian 3 : Lari ke Hyperspace > Bab 11 Lari Dari Alam Semesta
Peradaban Tipe I, II, dan III
Untuk memahami teknologi peradaban yang ribuan hingga jutaan tahun melampaui peradaban kita, terkadang fisikawan mengklasifikasikan peradaban berdasarkan konsumsi energi mereka dan aturan termodinamika. Saat memindai angkasa untuk mencari gejala makhluk berakal, fisikawan tidak mencari sosok hijau kecil melainkan peradaban dengan output energi peradaban tipe I, II, dan III. Penggolongan itu diperkenalkan oleh fisikawan Rusia, Nikolai Kardashev, pada tahun 1960-an untuk mengklasifikasikan sinyal radio dari peradaban yang mungkin eksis di luar angkasa. Tiap-tiap tipe peradaban memancarkan bentuk radiasi khas yang sanggup diukur dan dikatalogkan. (Bahkan peradaban maju yang mencoba menyembunyikan keberadaannya sanggup dideteksi oleh instrumen kita. Berdasarkan aturan termodinamika kedua, suatu peradaban maju akan menghasilkan entropi dalam bentuk panas buangan yang tak pelak lagi akan lepas ke luar angkasa. Sekalipun mereka mencoba menutupi keberadaan mereka, tidak mungkin untuk menyembunyikan pijaran redup yang dihasilkan oleh entropi mereka.)
Peradaban tipe I ialah peradaban yang telah memanfaatkan bentuk energi planeter. Konsumsi energi mereka sanggup diukur secara akurat: berdasarkan definisi, mereka sanggup memanfaatkan seluruh jumlah energi surya yang mengenai planet mereka, atau 10_16 watt. Dengan energi planeter ini, mereka sanggup mengendalikan atau memodifikasi cuaca, mengubah arah angin ribut, atau membangun kota di lautan. Peradaban semacam itu sungguh-sungguh merupakan penguasa planet mereka dan telah membuat peradaban planeter.
Peradaban tipe II telah kehabisan tenaga planet dan telah memanfaatkan tenaga bintang, atau kira-kira 10_26 watt. Mereka sanggup mengkonsumsi seluruh output energi dari bintang mereka dan mungkin mengendalikan flare surya dan menyalakan bintang lain.
Peradaban tipe III telah kehabisan tenaga tata surya dan telah mengkoloni/mendiami seporsi besar galaksi induknya. Peradaban semacam itu sanggup memanfaatkan energi dari 10 miliar bintang, atau kira-kira 10_36 watt.
Tiap-tiap tipe peradaban berbeda dari tipe lebih rendah sebesar faktor 10 miliar. Oleh alasannya ialah itu, peradaban tipe III, memanfaatkan tenaga miliaran sistem bintang, sanggup mempergunakan 10 miliar kali lipat output energi peradaban tipe II, yang mana memanfaatkan 10 miliar kali lipat output peradaban tipe I. Walaupun gap yang memisahkan peradaban-peradaban ini mungkin terasa amat besar, mengestimasi waktu yang diperlukan untuk mencapai peradaban tipe III sanggup dilakukan. Asumsikan sebuah peradaban tumbuh dengan laju sedang 2% hingga 3% dalam hal output energinya per tahun. (Asumsi ini masuk akal, alasannya ialah pertumbuhan ekonomi, yang tidak mengecewakan sanggup dikalkulasi, terkait eksklusif dengan konsumsi energi. Semakin besar perekonomiannya, semakin besar seruan energinya. Karena pertumbuhan produk domestik bruto, atau PDB, banyak negara berkisar antara 1% hingga 2% per tahun, kita sanggup menerka konsumsi energinya tumbuh dengan laju yang kurang-lebih sama.)
Pada laju sedang ini, kita sanggup mengestimasi bahwa peradaban mutakhir kita kurang-lebih 100 hingga 200 tahun lagi untuk mencapai status tipe I. Kita memerlukan kira-kira 1.000 hingga 5.000 tahun untuk mencapai status tipe II, dan barangkali 100.000 hingga 1.000.000 tahun untuk mencapai status tipe III. Pada skala menyerupai itu, peradaban kita hari ini boleh diklasifikasikan sebagai peradaban tipe 0, alasannya ialah kita memperoleh energi kita dari tumbuhan mati (minyak dan kerikil bara). Bahkan pengendalian angin ribut, yang sanggup melepaskan tenaga ratusan senjata nuklir, tidak terjangkau oleh teknologi kita.
Untuk menggambarkan peradaban kita hari ini, astronom Carl Sagan menganjurkan untuk membuat gradasi lebih halus antara tipe-tipe peradaban. Peradaban tipe I, II, dan III, telah kita simak, menghasilkan output total energi kira-kira 10_16, 10_26, dan 10_36 watt. Sagan memperkenalkan peradaban tipe I.1, contohnya, yang menghasilkan 10_17 watt daya, peradaban tipe I.2 yang menghasilkan 10_18 watt daya, dan seterusnya. Dengan membagi tiap-tiap tipe I menjadi sepuluh subtipe kecil, kita sanggup mulai mengklasifikasikan peradaban kita sendiri. Pada skala ini, peradaban mutakhir kita lebih menyerupai peradaban tipe 0.7—jarak yang mencolok untuk menjadi betul-betul [peradaban] planeter. (Peradaban tipe 0.7 masih seribu kali lebih kecil daripada tipe I, dalam hal produksi energi.)
Walaupun peradaban kita masih sungguh primitif, kita sudah melihat berlangsungnya gejala transisi. Ketika saya menatap tajuk utama surat kabar, saya tak henti-hentinya melihat tandamata evolusi bersejarah ini. Nyatanya, saya merasa terhormat masih hidup untuk menyaksikan ini:
• Internet merupakan sistem telepon tipe I yang sedang muncul. Ia mempunyai kapabilitas menjadi basis jaringan komunikasi planeter universal.
• Perekonomian masyarakat tipe I tak hanya akan didominasi oleh negara-negara tapi juga oleh blok-blok perdagangan besar menyerupai Uni Eropa, yang dibuat karena adanya persaingan dari NAFTA (negara-negara Amerika Utara).
• Bahasa masyarakat tipe I kita barangkali ialah bahasa Inggris, yang sudah menjadi bahasa mayoritas kedua di Bumi. Di banyak negara dunia ketiga hari ini, golongan atas dan lulusan universitas cenderung berbicara bahasa Inggris dan bahasa setempat. Seluruh populasi peradaban tipe I mungkin berdwibahasa dengan cara ini, berbicara bahasa setempat dan bahasa planet.
• Negara-negara, walaupun mereka mungkin akan eksis dalam suatu bentuk di abad-abad mendatang, akan menjadi kurang penting, sementara kendala perdagangan runtuh dan dunia menjadi lebih saling bergantung secara ekonomi. (Negara-negara modern, sebagian, mulanya didirikan oleh para kapitalis dan orang-orang yang menginginkan keseragaman mata uang, perbatasan, pajak, dan peraturan untuk menjalankan bisnis. Karena bisnis sendiri menjadi semakin internasional, perbatasan nasional niscaya semakin kurang relevan.) Tak ada satu negara pun yang cukup berkuasa untuk menghentikan gerakan menuju peradaban tipe I ini.
• Perang mungkin akan selalu bersama kita, tapi sifat perang akan berubah seiring kemunculan golongan menengah di planet ini yang lebih tertarik pada turisme dan pengumpulan kekayaan dan sumber daya ketimbang menundukkan orang lain dan mengendalikan pasar atau daerah geografis.
• Polusi akan semakin ditangani pada skala planet. Gas rumah kaca, hujan asam, pembakaran hutan tropis, dan semacamnya tidak menghormati perbatasan nasional, dan akan ada tekanan dari negara tetangga kepada pihak bersalah untuk memperbaiki tingkah laku. Permasalahan lingkungan global akan membantu mempercepat solusi global.
• Karena sumber daya (seperti panen ikan, panen biji-bijian, dan sumber daya air) lambat-laun menipis akhir pengolahan dan konsumsi berlebihan, akan ada peningkatan tekanan untuk mengelola sumber daya kita pada skala global atau, kalau tidak, kita akan menghadapi kelaparan dan keambrukan.
• Informasi akan hampir bebas, mendorong masyarakat untuk jauh lebih demokratis, memperkenankan orang-orang yang terpinggirkan untuk memperoleh bunyi baru, dan memperlihatkan tekanan terhadap kediktatoran.
Kekuatan-kekuatan ini berada di luar kendali individu atau negara mana pun. Internet tidak sanggup dilarang. Nyatanya, tindakan semacam itu akan lebih menggelikan daripada menakutkan, alasannya ialah Internet merupakan jalan menuju kesejahteraan ekonomi, sains, budaya, dan juga hiburan.
Tapi transisi dari tipe 0 ke tipe I juga sangat membahayakan, alasannya ialah kita masih memperlihatkan kebiadaban yang melambangkan kemunculan kita dari hutan. Sedikit-banyak, kemajuan peradaban kita ialah perpacuan dengan waktu. Di satu sisi, gerakan menuju peradaban planeter tipe I mungkin menjanjikan kita sebuah era perdamaian dan kesejahteraan tiada banding. Di sisi lain, kekuatan entropi (efek rumah kaca, polusi, perang nuklir, fundamentalisme, penyakit) masih mengoyak kita. Sir Martin Rees melihat ancaman ancaman ini, serta hal-hal yang diakibatkan oleh terorisme, basil rekayasa biologi, dan mimpi jelek teknologi lainnya, sebagai beberapa tantangan terbesar yang dihadapi manusia. Sungguh melegakan, Rees memberi kita peluang 50:50 saja untuk berhasil menegosiasikan tantangan ini.
Ini mungkin merupakan salah satu alasan mengapa kita tidak melihat peradaban ekstraterestrial di ruang angkasa. Jika mereka memang eksis, barangkali mereka begitu maju sehingga hanya mempunyai sedikit minat terhadap masyarakat primitif tipe 0.7 kita. Kemungkinan lain, mereka disibukkan oleh perang atau binasa oleh polusi mereka sendiri, ketika berusaha mencapai status tipe I. (Dalam hal ini, generasi kita yang kini hidup mungkin merupakan salah satu generasi terpenting yang pernah berjalan di muka Bumi; generasi ini mungkin sangat memilih apakah kita berhasil dengan kondusif menjalani transisi menuju peradaban tipe I.)
Tapi sebagaimana pernah dikatakan oleh Friedrich Nietzsche, apa-apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita lebih kuat. Transisi menyakitkan kita dari tipe 0 ke tipe I tentu saja akan menjadi percobaan membahayakan, dengan sejumlah ancaman yang mengerikan. Bila kita sanggup keluar dari tantangan ini secara sukses, kita akan lebih kuat, selayaknya penempaan baja leleh untuk mengeraskannya.

Komentar
Posting Komentar