Dunia Pararel - Michio Kaku [#113]
Bagian 3 : Lari ke Hyperspace > Bab 10 Akhir Segalanya
Big Crunch
Salah satu upaya pertama untuk mempergunakan fisika untuk menjelaskan final alam semesta ialah sebuah makalah yang ditulis pada 1969 oleh Sir Martin Rees yang berjudul “The Collapse of the Universe: An Eschatological Study”. Saat itu, harga Omega sebagian besar masih belum diketahui, jadi beliau mengasumsikannya berharga 2, artinya alam semesta pada karenanya akan berhenti mengembang dan mati dalam big crunch daripada big freeze.
Dia mengkalkulasikan bahwa ekspansi alam semesta pada karenanya akan berhenti, dikala galaksi-galaksi berjauhan dua kali lipat dari keadaan mereka sekarang, dikala gravitasi karenanya mengatasi ekspansi alam semesta. Ingsutan merah yang kita saksikan di angkasa akan menjadi ingsutan biru, sementara galaksi-galaksi mulai berpacu ke arah kita.
Menurut versi ini, sekitar 50 miliar tahun dari sekarang, kejadian katastropis akan terjadi, mengisyaratkan kesekaratan alam semesta. Seratus juta tahun sebelum final crunch (pengunyahan/pemamahan akhir), galaksi-galaksi di alam semesta, termasuk galaksi Bima Sakti kita sendiri, akan mulai saling bertubrukan dan karenanya bergabung. Anehnya, Rees menemukan bahwa bintang-bintang individual akan lenyap sebelum mulai saling bertubrukan, alasannya ialah dua alasan. Pertama, radiasi dari bintang lain di angkasa akan menerima energi selagi alam semesta berkontraksi; dengan demikian, bintang-bintang akan bermandikan cahaya ingsutan biru panas bintang lain. Kedua, temperatur radiasi gelombang mikro latar akan sangat meningkat selagi temperatur alam semesta membumbung. Kombinasi dua efek ini akan membuat temperatur yang melebihi temperatur permukaan bintang-bintang, yang akan menyerap panas lebih cepat daripada ketika melepaskannya. Dengan kata lain, bintang-bintang kemungkinan akan berdisintegrasi dan berpencar menjadi awan gas superpanas.
Makhluk berakal, di bawah keadaaan ini, tak pelak lagi akan musnah, hangus oleh panas kosmik yang melimpah dari bintang dan galaksi dekat. Tak ada kawasan untuk melarikan diri. Sebagaimana ditulis Freeman Dyson, “Dengan menyesal, aku harus sepakat bahwa dalam kasus ini kita tak sanggup melarikan diri dari penggorengan. Tak peduli seberapa dalam kita menggali Bumi untuk melindungi diri dari radiasi ingsutan biru latar, kita hanya sanggup menunda final menyedihkan kita beberapa juta tahun saja.”
Jika alam semesta sedang menuju big crunch, maka pertanyaan yang tersisa ialah apakah alam semesta akan kolaps dan lalu melambung, sebagaimana dalam [model] alam semesta berosilasi. Skenario ini diadopsi dalam novel karangan Poul Anderson, Tau Zero. Seandainya alam semesta sesuai dengan prinsip Newtonian, ini memang mungkin, kalau ada cukup gerak menyamping selagi galaksi-galaksi termampatkan menuju satu sama lain. Dalam kasus ini, bintang-bintang mungkin tidak diremas menjadi titik tunggal melainkan saling meluputkan pada titik pemampatan maksimum dan lalu melambung, tanpa bertubrukan dengan satu sama lain.
Namun, alam semesta tidaklah sesuai dengan prinsip Newtonian; ia mematuhi persamaan Einstein. Roger Penrose dan Stephen Hawking mengatakan bahwa, di bawah keadaan sangat umum, kumpulan galaksi yang kolaps niscaya akan diremas menuju singularitas. (Ini karena gerak menyamping galaksi-galaksi mengandung energi dan karenanya berinteraksi dengan gravitasi. Dengan demikian, tarikan gravitasi dalam teori Einstein jauh lebih besar daripada yang ditemukan dalam teori Newton untuk kekolapsan alam semesta, dan alam semesta kolaps menjadi titik tunggal.)

Komentar
Posting Komentar