Black Holes, Wormholes And Time Machines - Jim Al-Khalili [#1]
Dalam beberapa tahun belakangan terjadi ledakan jumlah buku dan jadwal TV yang mempopulerkan ide dan teori sains mutakhir dan membuatnya sanggup diakses kalangan luas. Lantas adakah kebutuhan akan buku lain perihal subjek yang sudah menerima lebih banyak perhatian daripada dominan subjek lain: sifat ruang dan waktu dan awal-mula Alam Semesta kita? Suatu hari saya menilik situs klub buku yang besar. Di bawah kategori sains dan alam, saya mencari semua buku yang memuat kata ‘waktu’ dalam judulnya. Saya menemukan 29 buku! Tentu saja, Brief History of Time-nya Stephen Hawking yaitu yang paling dikenal di antara buku-buku ini, tapi ada banyak buku lain dengan judul-judul ibarat About Time, The Birth of Time, The Edge of Time, The River of Time, dan lainnya. Sepertinya mempertanyakan sifat waktu pada level mendasar merupakan topik ‘hangat’ ketika ini. Yang paling mengejutkan bagi saya yaitu banyak dari 29 buku itu telah diterbitkan semenjak saya mulai menulis buku ini.
Para penulis sains yang diakui semisal Paul Davies, John Gribbin, dan Richard Dawkins merupakan wangsit saya ketika kuliah di pertengahan 1980-an. Tapi mereka justru mengajar mahasiswa yang gres masuk. Paling banter itu ditujukan bagi ‘orang awam cerdas’, siapapun yang dianggap demikian. Oleh alasannya yaitu itu ambisi saya yaitu menulis sebuah buku pada level yang lebih dasar, yang sanggup menjelaskan beberapa ide dan teori fisika modern untuk siapapun biar dimengerti, tentu saja asalkan mereka cukup tertarik membaca buku semacam itu. Saya juga telah mencoba membuatnya sedikit lebih menyenangkan, mencoba (mungkin tanpa banyak keberhasilan) ibarat Stephen Hawking berjumpa Terry Pratchett.
Banyak ilmuwan akan berargumen, subjek-subjek sukar macam teori relativitas Einstein hanya sanggup ‘dibungkam’ sebelum mencapai level di mana penjelasannya tak lagi benar. Saya benci istilah tersebut: dibungkam. Kedengarannya begitu merendahkan. Dan meski disanjung oleh masyarakat sebagai kalangan yang lebih cerdas daripada yang lain, ilmuwan cuma orang yang menghabiskan bertahun-tahun dilatih untuk memahami jargon relevan, konsep abstrak, dan rumus matematika. Bagian sulitnya ialah menerjemahkan ini ke dalam kata-kata dan ide yang bisa dimengerti oleh seseorang tanpa training tersebut.
Oleh alasannya yaitu cara buku ini berkembang, saya menulisnya dengan mempertimbangkan audiens remaja. Namun, ini diperuntukkan bagi siapa saja yang merasa judulnya mempesona atau membangkitkan keingintahuan. Tak peduli apakah Anda belum pernah memungut satupun buku sains semenjak Anda berumur lima belas.
Jadi bagaimana dahulu buku ini terbentuk? Well, sekitar 3 tahun lalu, kepala departemen fisika saya ketika itu di Universitas Surrey, Bill Gelletly, menyarankan biar saya memperlihatkan sebuah kuliah seputar ‘wormhole’, sebagai salah satu dari rangkaian kuliah untuk mahasiswa tahun pertama yang mencakup sederetan topik umum dalam fisika modern. Topik ini sudah niscaya bukan bab dari mata kuliah tradisional fisika tingkat prasarjana. Nyatanya, penggemar serial TV Star Trek: Deep Space Nine barangkali lebih tahu soal wormhole daripada rata-rata fisikawan. Bagaimanapun juga, saya pikir itu akan menyenangkan. Maka saya pun membaca buku-buku bertema tersebut untuk persiapan memberi kuliah. Pada ketika harinya tiba, saya terkejut mendapati banyak mahasiswa yang bukan mengambil mata kuliah tersebut, serta para periset pasca doktoral dan anggota staf, justru ada di antara hadirin. Kelihatannya ada sesuatu yang magis dari judulnya.
Tiap tahun departemen saya mengirim banyak pembicara, di antara staf akademisnya, dan judul-judul kuliah ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi setempat. Ini terutama sebagai publisitas departemen, dengan keinginan kuliah ini akan memainkan kiprah dalam kampanye menarik mahasiswa baru. Saya menyodorkan pembicaraan ‘wormhole’ sebagai salah satunya. Saking suksesnya, saya hingga ditanya oleh Institute of Physics apakah bersedia menjadi Schools Lecturer tahun 1998. Ini melibatkan komitmen lebih besar yang mengharuskan saya bepergian keliling negara untuk memperlihatkan kuliah kepada kaum arif balig cukup akal berusia 14-16 tahun, dengan audiens berjumlah beberapa ratus dalam satu waktu. Dan, sehabis melaksanakan banyak persiapan untuk penampilan ini, ternyata saya sudah mengumpulkan banyak sekali materi mempesona untuk dijejalkan ke dalam kuliah satu jam dan memutuskan menuliskannya ke dalam sebuah buku.
Jim Al-Khalili
Portsmouth, Inggris, Juli 1999
Portsmouth, Inggris, Juli 1999
PENGHARGAAN
Menengok paruh kedua tahun 1998 silam, sewaktu bab terbesar buku ini ditulis, saya sadar telah berutang banyak terima kasih kepada isteri saya Julie dan bawah umur saya David dan Kate atas kesabaran mereka dalam menyertai saya. Karena tak mungkin membiarkan penulisannya mengganggu riset saya, buku ini harus dikerjakan di rumah pada malam hari dan final pekan. Saya juga berutang kepada teman, keluarga, dan kolega berikut yang bermurah hati mau membaca seluruh naskah dan memberi begitu banyak komentar dan saran konstruktif: Julie Al-Khalili, Reya Al-Khalili, Richard Wilson, Johnjoe MacFadden, Greg Knowles, Simon Doran, James Christley, Ray Mackintosh, John Miller, dan James Curry. Saya yakin masih ada kekeliruan, dan saya sendirian yang bertanggungjawab atas hal itu. Saya juga harus berterima kasih kepada Bill Gelletly atas saran yang menciptakan seluruh proyek ini dimulai, Kate Jones atas beberapa diskusi makan siang yang konstruktif seputar entropi, Youcef Nedjadi atas klarifikasi beberapa aspek kehendak bebas, Matt Viser atas pemberitahuan beberapa ide teranyar perihal wormhole, Brian Stedeford atas wawasan bermanfaat perihal karya Lewis Carroll, Phil Palmer atas klarifikasi sejumlah poin dalam kosmologi, James Malone atas kemurahan menyediakan gambaran wormhole hasil komputer untuk sampul buku, dan terakhir editor pengawas saya di Institute of Physics Publishing, Michael Taylor, atas semua derma dan dukungannya.
PENDAHULUAN
“Saatnya telah tiba,” kata Walrus,
“untuk membicarakan banyak hal”...
Lewis Caroll, Through the Looking Glass
“untuk membicarakan banyak hal”...
Lewis Caroll, Through the Looking Glass
Buku ini diperuntukkan bagi semua orang—saya tahu cukup banyak orang—yang ingin tau terhadap konsep-konsep yang terdengar eksotis seperti black hole, lengkungan ruang, Big Bang, perjalanan waktu, dan alam semesta paralel. Dalam menulis buku ini saya bertanya pada diri sendiri, apakah orang awam bisa memahami sedikit perihal beberapa ide fisika modern tanpa ingin sekali mengecek sebelumnya bahwa IQ mereka menjangkau kiprah tersebut.
Subjek buku ini telah diliput di daerah lain pada banyak level berbeda. Paling puncak ialah teks tingkat tinggi atau karya ilmiah untuk praktisi di bidangnya. Ini yaitu buku jampi penyihir, hanya bisa diurai oleh segelintir orang istimewa. Lalu ada buku yang ditujukan bagi mahasiswa fisika. Ini juga memuat beberapa jampi, tapi tak terlalu kuat. Di bawahnya ada pasar sains populer. Buku-bukunya ditujukan kepada non-ilmuwan karena memuat sedikit matematika atau tidak sama sekali. Namun, buku tersebut hanya menarik mereka yang (a) ilmuwan atau (b) fans buku demikian, yang telah membaca buku-buku serupa tanpa kecuali.
Jadi, ketika menulis buku ini saya mengerahkan segala upaya untuk memangkas jargon ilmiah sebanyak mungkin. Belakangan ini para penulis sains populer, pada umumnya, semakin cakap dalam menjelaskan konsep kompleks dengan istilah sehari-hari. Tapi sesekali kita akan menggunakan ‘bahasa Jargon’ alasannya yaitu kita lupa ia tak mengandung makna yang sama untuk setiap orang.
Sepuluh menit, pendek atau panjang?
Pada suatu animo panas, ketika berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun, saya jadi tertarik dengan konsep waktu. Dari mana ia berasal? Apa kita menemukannya ataukah ia senantiasa ada? Apakah masa depan telah eksis di suatu tempat? Apakah masa kemudian masih sedang dimainkan? Pertanyaan-pertanyaan yang mendalam untuk ukuran anak kecil. Tapi, sebelum Anda mengira ini yaitu talenta kanak-kanak saya, izinkan saya menyebarkan ide soal perjalanan waktu. Saya tahu, di sisi lain bumi, di suatu daerah di tengah-tengah Samudera Pasifik, terdapat garis tak nampak yang menjulur dari Kutub Utara ke Kutub Selatan yang membagi bumi ke dalam hari ini dan hari kemarin! Jika sebuah kapal dilabuhkan di tengah garis ini, maka di satu ujung kapal boleh jadi berpukul 09.00 Selasa pagi dan di ujung lainnya masih pukul 10.00 Senin pagi. Tentu ini merupakan pola terperinci perjalanan waktu, cukup dengan berjalan beberapa yard sepanjang geladak!
Oke, saya tahu ada sesuatu yang mencurigakan dan saya ingat suatu malam ayah saya menjelaskan bahwa zona-zona waktu di seluruh dunia hanyalah inovasi manusia. Contoh, bila diputuskan bahwa pada tengah malam di New York, lantas di London sudah berpukul 05.00 pagi, itu hanyalah cara kita memastikan agar, seraya Bumi berputar, dan aneka macam negara menghadap ke arah matahari, durasi siang kurang-lebih sama untuk setiap orang, jikalau tidak pada waktu yang sama. Saya mengikuti semua ini, tapi sedikit-banyak menciptakan saya kecewa. Pasti konsep ‘waktu’ lebih dari itu, sesuatu yang lebih misterius. Saya berteori perihal waktu yang mengalir dengan laju berbeda-beda tergantung pada mood saya. Jam niscaya melambat menuju final pelajaran sekolah dan, seiring hari ulangtahun mendekat, ahad dan hari hampir berhenti.
Kini giliran bawah umur saya yang hingga pada kesimpulan ini. Jika saya memberitahukan bahwa mereka punya waktu sepuluh menit untuk menaruh mainan, mereka sungguh serius ketika bertanya apakah itu yaitu sepuluh menit pendek, menengah, atau panjang? Bagaimanapun, siapa yang bisa membantah observasi sederhana bahwa, bagi seorang anak kecil, waktu berjalan sangat lambat. Satu tahun yaitu waktu yang sangat panjang bagi anak berusia lima tahun alasannya yaitu angka tersebut menyusun seperlima hidup mereka, tapi semakin bau tanah usia kita, semakin cepat rasanya tahun-tahun meluncur: dapatkah Anda percaya kini sudah Natal lagi!? Atau: benarkah sudah 3 tahun berlalu semenjak saya terakhir kali berada di sini? Dan sebagainya.
Jauh dalam lubuk hati, kita merasa tahu bahwa waktu mengalir dengan laju tetap. Ketika ditanya seberapa cepat waktu mengalir, respon fasih dan lazim para ilmuwan yaitu menyebut lajunya satu detik per detik. Dalam kultur kita, kita percaya bahwa, tak peduli seberapa subjektif perasaan kita terhadap aliran waktu, terdapat jam kosmik yang menandai detik, menit, jam, hari, dan tahun di setiap daerah di Alam Semesta tanpa belas kasihan dan tanpa sanggup ditawar dan tak ada yang bisa kita perbuat untuk mengubahnya.
Ataukah ada? Apakah waktu kosmik semacam itu betul-betul eksis? Fisika modern telah memperlihatkan ia tidak eksis. Jangan khawatir, terdapat bukti amat besar lengan berkuasa untuk mendukung ini. Sebelum saya beranjak lebih jauh, cobalah ini sebagai ukuran: kita merasa yakin perjalanan waktu ke masa depan yaitu mungkin. Ilmuwan telah berhasil menjalankan banyak eksperimen yang menguji ini dan membuktikannya di luar dugaan. Jika Anda mewaspadai serpihan informasi mengagumkan ini, bahkan mungkin mengherankan, maka itu bukan jawaban penutup-nutupan oleh pemerintah ala X-Files melainkan lebih karena Anda belum menempuh mata pelajaran relativitas khusus. Semua akan diungkap, saya harap, dalam buku ini.
Akal sehat
Barangkali masuk akal jikalau dikatakan kebanyakan orang tidak punya korelasi yang baik dengan teori-teori relativitas Einstein (ya, ada dua teori). Makanya saya tak pernah terkejut dengan tanggapan yang saya peroleh ketika memberitahu teman-teman non-ilmuwan bahwa tak ada yang bisa berjalan lebih cepat daripada cahaya. “Bagaimana kamu tahu?” tanya mereka. “Hanya karena ilmuwan belum menemukan sesuatu yang bisa berjalan lebih cepat daripada cahaya bukan berarti kamu tidak akan menarik kembali ucapanmu suatu hari nanti. Sebaiknya kamu lebih berpikiran terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan lain yang belum terjadi padamu. Bayangkan memperlihatkan televisi kepada sebuah suku terpencil di pedalaman Amazon yang belum pernah melihatnya,” dan seterusnya. Saya tak terganggu sedikitpun oleh respon ini alasannya yaitu sikap inilah yang saya harap dimiliki oleh pembaca buku ini. Yakni, berpikiran terbuka dan memiliki kemampuan untuk mendapatkan pandangan keduniaan yang gres sekalipun itu bertentangan dengan segala yang Anda yakini, atau apa yang biasa Anda sebut nalar sehat.
Albert Einstein pernah dikutip menyampaikan bahwa nalar sehat hanyalah prasangka yang kita peroleh pada usia delapan belas. Jadi, bagi suku Amazon yang belum pernah melihat televisi, akan bertentangan dengan nalar sehat mereka jikalau kotak semacam itu bisa berbicara kepada mereka dan mempertunjukkan seluruh dunia di dalamnya. (Oke, saya berasumsi mereka punya listrik dan pembangkit listrik!) Tapi saya yakin Anda akan sependapat bahwa sehabis kita menghabiskan cukup waktu dengan suku ini untuk menjelaskan gelombang radio dan elektronik modern dan segala hal lain yang menciptakan televisi bekerja, dengan segan mereka akan menyesuaikan pandangan keduniaan mereka biar informasi gres ini tak lagi bertentangan dengan nalar sehat mereka.
Di permulaan periode 20, beberapa teori ilmiah gres dikembangkan dan terbukti benar hingga sekarang. Di antara mereka ada yang bertanggungjawab atas seluruh sains dan teknologi modern. Fakta bahwa kita memiliki jam digital, komputer, televisi, microwave, pemutar CD, dan hampir semua alat modern lain merupakan saksi bahwa teori-teori ini, jikalau bukan seluruhnya, sangat benar dalam cara menggambarkan dunia di sekeliling kita. Teori-teori yang dimaksud yaitu relativitas dan mekanika quantum. Saya harus jelaskan, teori sukses yaitu teori yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dalam keadaaan tertentu: jikalau saya melaksanakan ini, maka, berdasarkan teori saya, akan terjadi itu. Jika saya menjalankan sebuah eksperimen dan mendapati prediksi teorinya benar, maka ini yaitu bukti yang mendukung teori. Tapi teori tidak sama dengan hukum.
Hukum gravitasi menyatakan semua objek di Alam Semesta ditarik ke satu sama lain oleh sebuah gaya yang tergantung pada seberapa masif mereka dan seberapa jauh mereka terpisah. Ini tidak diragukan, dan meski kita tahu itu perlu dimodifikasi bila berurusan dengan objek-objek amat masif semacam black hole, kita mempercayainya seutuhnya manakala mendeskripsikan cara objek yang jatuh berperilaku terhadap Bumi. Namun, sebuah teori hanya manis selama teori yang lebih baik tidak maju dan menyangkalnya. Kita tak pernah bisa pertanda sebuah teori, hanya bisa menyangkalnya, dan teori sukses yaitu teori yang tahan terhadap ujian waktu. Berlawanan dengan pandangan banyak non-ilmuwan, dominan ilmuwan lebih suka pertanda bahwa sebuah teori ilmiah itu salah, semakin terhormat semakin manis untuk disangkal. Jadi, karena teori-teori ibarat mekanika quantum dan relativitas Einstein telah bertahan hampir sepanjang periode ini, meski terdapat upaya gigih fisikawan untuk membuktikannya salah atau sekurangnya menemukan celah atau kelemahan, kita harus akui kedua teori tersebut barangkali benar, atau setidaknya berada di jalur yang benar.
Kembali ke masa depan
Maaf, saya menyimpang dari cerita. Saya harus kembali ke soal menarik yaitu bahwa perjalanan waktu yaitu memungkinkan. Nanti dalam buku ini saya akan menjelaskan lebih dalam apa itu teori relativitas. Sementara itu, berikut yaitu pola fatwa relativitas kepada kita. Jika Anda bepergian dalam sebuah roket yang bisa berjalan begitu cepat mendekati kecepatan cahaya, dan Anda mengitari Galaksi selama, katakanlah, empat tahun, maka ketika pulang ke Bumi, Anda akan sedikit terguncang. Jika kalender di roket Anda menyatakan Anda berangkat Januari 2000 dan pulang Januari 2004, maka, tergantung kecepatan persis Anda dan seberapa berliku jalur Anda melintasi bintang-bintang, Anda mungkin mendapati bahwa berdasarkan Bumi tahun kepulangan Anda yaitu 2040 dan semua orang di Bumi telah bertambah bau tanah 40 tahun! Mereka akan sama-sama terguncang menyaksikan betapa Anda masih tampak muda mengingat betapa lamanya Anda, berdasarkan mereka, telah pergi.
Jadi jam roket Anda, yang bepergian dengan kecepatan amat tinggi, mengukur empat tahun, sedangkan jam Bumi telah menghitung empat puluh tahun. Bagaimana ini bisa terjadi? Mungkinkah waktu betul-betul melambat di dalam roket Anda jawaban kecepatan tingginya? Bila demikian, berarti, praktisnya, Anda telah melompat 36 tahun ke masa depan!
Walaupun saya akan kembali membahasnya nanti, ide waktu melambat selagi Anda bepergian pada kecepatan tinggi yaitu sesuatu yang betul-betul telah dicek dan dikonfimasi berkali-kali dalam eksperimen berlainan hingga derajat akurasi amat tinggi. Contoh, ilmuwan telah menyinkronkan dua jam atom berpresisi tinggi, kemudian menempatkan salah satunya di sebuah pesawat jet dan yang lainnya di sebuah laboratorium di Bumi. Setelah jet pulang, kedua jam dicek lagi. Ternyata jam yang bepergian tertinggal sepecahan detik di belakang rekannya yang tinggal di rumah. Terlepas dari kecepatan sedang 1.000 km/jam (kecepatan terbang jet) dibanding kecepatan cahaya (jutaan kali lebih cepat), selisih kecil, jikalau bukan sepele, antara catatan kedua jam tersebut riil. Jam-jam itu begitu akurat sehingga kita tidak mewaspadai catatannya atau kesimpulan yang kita tarik darinya.
Pembaca yang tahu soal teori relativitas mungkin ingin membantah pada poin ini bahwa pola di atas tidak sesederhana kedengarannya. Memang benar, tapi seluk-beluk hal yang dikenal sebagai paradoks jam ini harus menunggu hingga saya membahas relativitas khusus di Bab 6. Untuk sekarang, cukup menjaga pembahasan pada level pernyataan sederhana, tapi tepat sempurna, bahwa kecepatan tinggi memperkenankan perjalanan waktu ke masa depan.
Bagaimana dengan perjalanan waktu ke masa lalu? Dalam banyak hal, ini lebih mempesona lagi. Tapi ternyata juga jauh lebih sulit. Mungkin Anda kaget bahwa pergi ke masa depan lebih gampang daripada ke masa lalu. Anda barangkali berpikir, gagasan pergi ke masa depan lebih menggelikan. Masa kemudian mungkin tak sanggup diakses, tapi setidaknya ada di luar sana; ia telah terjadi. Masa depan, di sisi lain, masih harus terjadi. Bagaimana Anda bisa pergi ke waktu yang belum terjadi?
Yang lebih jelek lagi, jikalau Anda percaya bahwa Anda punya suatu kendali atas takdir Anda, maka semestinya terdapat versi masa depan dalam jumlah tak terhingga. Lantas apa yang mengatur versi mana yang akan Anda datangi? Tentu saja, mendatangi masa depan lewat perjalanan antariksa kecepatan tinggi bukan berarti masa depan sudah ada di luar sana menanti Anda. Itu hanya berarti Anda meninggalkan kerangka waktu orang lain dan memasuki kerangka waktu di mana waktu bergerak lebih lambat. Selagi Anda berada dalam kondisi ini, waktu di luar berdetak lebih cepat dan masa depan menghampar dengan kecepatan tinggi. Saat bergabung kembali dengan kerangka waktu asli, Anda telah mencapai masa depan secara lebih cepat dibanding orang lain. Ini sedikit ibarat dengan bangun dari koma sehabis berlalu beberapa tahun dan mengira Anda koma selama beberapa jam saja. Bedanya, tentu saja, Anda akan terguncang begitu pertama kali memandang cermin dan melihat betapa Anda sudah jauh menua, sedangkan dalam kasus perjalanan high speed, jam badan Anda dan segala sesuatu di roket betul-betul berada dalam kerangka waktu berbeda. Yang sangat aneh, Anda tidak melihat ada yang berbeda selama bergerak pada kecepatan ini. Bagi Anda, waktu berjalan dengan laju normalnya di dalam roket dan jikalau bisa menengok ke luar jendela, Anda akan, paradoksnya, melihat waktu di luar berjalan lebih lambat!
Namun, ini ada aspek negatifnya. Sekali Anda mencapai masa depan, Anda terpaku di sana dan tak bisa pulang ke masa kini yang Anda tinggalkan. Tanggal keberangkatan Anda dengan roket kini berada di masa kemudian Anda, dan perjalanan waktu ke masa kemudian agak jadi persoalan. Tapi menyebutnya sebagai problem tidaklah sama dengan menyatakannya mustahil.
Bertemu diri Anda sendiri
Ada begitu banyak pola mengherankan perihal betapa konyolnya jikalau perjalanan waktu ke masa kemudian sanggup dilakukan sampai-sampai saya bisa mengisi seluruh buku ini dengannya. Contoh, bagaimana jikalau perjalanan waktu ke masa kemudian sanggup dilakukan dan Anda memutuskan mengunjungi diri Anda ketika lebih muda di waktu persis sebelum Anda menginvestasikan tabungan ke dalam bisnis patungan yang Anda tahu akan gagal. Jika Anda berhasil meyakinkan diri muda Anda biar tidak melaksanakannya, maka kiranya hidup Anda akan berbeda. Pada ketika Anda mencapai usia di mana Anda pergi ke masa kemudian untuk menasehati diri Anda biar membatalkan keputusan, tidak akan ada kebutuhan untuk berbuat demikian alasannya yaitu Anda tak pernah melaksanakan investasi. Makara Anda tidak pergi ke masa lalu. Tapi pada ketika yang sama Anda harus punya ingatan tidak menginvetasikan uang karena diberitahu oleh diri bau tanah Anda yang berkunjung dari masa depan. Anda kini hidup di sebuah dunia di mana Anda menciptakan keputusan untuk tidak berinvestasi. Apakah ini gara-gara Anda bertemu diri bau tanah Anda yang menasehati biar tidak melakukannya? Kalau begitu, bagaimana Anda bisa menjadi orang tersebut yang merasa perlu pergi ke masa kemudian untuk memperingatkan Anda terhadap sesuatu yang jadinya tidak Anda lakukan?
Jika Anda galau sama sekali dengan apa yang gres Anda baca, jangan khawatir, memang semestinya demikian. Itulah poin utuh sebuah paradoks. Berikut adalah, secara sekilas, kemungkinan solusi. Jika Anda pergi ke masa kemudian untuk memperingatkan diri Anda biar tidak melaksanakan sesuatu, maka kedua hal tersebut benar. Pertama, fakta bahwa Anda akan pergi ke masa kemudian untuk menghentikan sesuatu yang telah terjadi mengandung arti bahwa Anda niscaya gagal dalam upaya tersebut karena itu memang terjadi. Bagaimanapun, hanya ada satu versi sejarah. Kedua, Anda mesti mengingat sebuah waktu di masa kemudian ketika Anda dikunjungi oleh diri bau tanah Anda dan Anda tahu itu upaya sia-sia dan karenanya tahu itu tak layak dicoba. Di sinilah klarifikasi ini mogok. Jika Anda tahu tidak ada baiknya pergi ke masa kemudian untuk memperingatkan diri Anda dan kemudian memutuskan tidak pergi, lantas siapa yang pergi? Anda harus pergi ke masa kemudian alasannya yaitu Anda ingat pernah bertemu diri bau tanah Anda yang mencoba meyakinkan Anda biar tidak masuk ke dalam bisnis patungan. Ini berarti Anda tidak punya kebebasan untuk menentukan tindakan. Jadi, apa yang terjadi? Apakah suatu Penguasa Waktu muncul dan memaksa Anda memasuki mesin waktu yang memperingatkan Anda akan konsekuensi mengerikan terhadap struktur ruangwaktu jikalau Anda tidak memasukinya?
Terlepas dari problem semacam ini, Anda mungkin tertarik untuk mengetahui bahwa perjalanan waktu ke masa kemudian ternyata diperkenankan oleh teori relativitas umum Einstein, sebuah inovasi yang dibentuk setengah periode silam. Dan karena relativitas umum ketika ini merupakan teori terbaik kita mengenai sifat waktu, kita harus mempertimbangkan prediksi-prediksinya secara serius hingga kita sanggup menemukan alasan bagus, barangkali berdasarkan pemahaman lebih mendalam terhadap teori tersebut, untuk mengesampingkan mereka. Karenanya, mungkin Anda bertanya-tanya mengapa hingga kini tak seorangpun bisa mengkonstruksi mesin waktu? Dalam buku ini saya menjelaskan alasannya, menyinggung beberapa topik paling mempesona dalam fisika.
Beberapa hal yang telah kita temukan mengenai Alam Semesta begitu mengagumkan dan luar biasa sampai-sampai saya berharap Anda akan merasa tertipu karena belum mengetahuinya hingga sekarang. Itulah yang saya harap Anda dapatkan dari buku ini; menyebarkan perasaan ingin tau yang saya miliki perihal kosmos. Memberi Anda suatu amunisi ilmiah keras untuk menciptakan teman-teman pesta makan malam Anda terkesan ketika diskusi perjalanan waktu dimulai.

Komentar
Posting Komentar